<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256</id><updated>2012-01-27T14:03:44.402-08:00</updated><category term='Psikologi Populer'/><category term='Lirik lagu'/><category term='Bedah Puisi'/><category term='Bedah Buku'/><category term='Karya Ilmiah'/><category term='Kutipan Novel'/><category term='Kutipan'/><category term='Cerita pendek yang bener2 pendek'/><title type='text'>About Psychology</title><subtitle type='html'>--reSeNsi BuKu, FiLm, JuRNal PsikOloGi, seRta kuMpULAN KArYa iLmiAh saYa--</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-8653159379925229770</id><published>2008-06-23T04:03:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T04:07:59.180-07:00</updated><title type='text'>Sharing: Indigo</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Lagi, jadi pembicara tema indigo.&lt;br /&gt;Kali ini di Perpusnas, atas undangan Univ YAI Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada kali pertama di UIN, bintang tamunya adalah anak indigo (Anisa Rania Putri: anak kecil yang jago bahasa inggris sejak pertama kali mengeluarkan kata pertama, tanpa diajarkan oleh ibunya/siapapun), maka pada kesempatan tadi adalah indigo berusia dewasa. 2 sampel berbeda ini, membuat saya jadi mulai mengerti alurnya indigo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heboh fenomena indigo sudah terjadi beberapa waktu lalu, sejak gembar-gembor pemberitaan di media.&lt;br /&gt;Kick Andy Show pernah menayangkan seorang anak (Ario, 12 th) yang mampu menulis aksara cina kuno, padahal tidak pernah diajari. dimana berdasarkan keyakinannya, ia adalah prajurit perang cina, di masa terdahulu, sebelum ia dilahirkan di masa kini. Selain itu, Ario memiliki kemampuan ESP (Ekstra Sensory Perception) berupa kemampuan melihat makhluk halus, dan dapat mengetahui bahwa neneknya akan meninggal (firasat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa Rania, termasuk yang sering diberitakan, terutama tentang kemampuannya menceritakan secara detil hal2 yang terjadi selama berada dalam rahim ibunya. hal ini diceritakannya secara fasih dalam bahasa inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pada kasus yang saya temui &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1214217959_0"&gt;hari ini&lt;/span&gt;: indigo dewasa, ternyata ia tidak pernah tidak merasakan mimpi dalam tiap tidurnya. bahkan tidur 5 menit saja bisa bermimpi. uniknya, sejak usia 3th, beliau sudah sadar akan mimpi yang dialaminya (bayangkan: bukankah kognisi kita seharusnya pada usia tersebut belum punya kesadaran akan hal2 yang abstrak toh? ck..ck..ck). Hal unik lainnya, mimpi2 tersebut banyak yang menjadi kenyataan, dan ia juga sering berada di tahun2 bersejarah dalam mimpi tsb (pernah berada di tahun 1928, di masa eyang buyutnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya ceritakan sebuah alur yang terkait dengan indigo anak2 ke indigo dewasa, ada baiknya saya cantumkan sedikit penjelasan terkait dengan indigo ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;br /&gt;Istilah indigo berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi warna biru dengan ungu. Warna-warna tersebut diidentifikasi lewat cakra di tubuh. "Letak indigo ada di kening, persisnya antara cakra leher yang berwarna biru dengan cakra puncak kepala yang berwarna ungu,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang awam dapat mengidentifikasi indigo ini berdasarkan ciri sbb: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;               &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Suka berbicara sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dapat melihat masa lalu dan masa depan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Cenderung lebih matang dari usianya (dapat menangkap perasaan, kemauan dan pikiran orang lain) &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1214217959_1"&gt;Kecerdasan&lt;/span&gt; di atas rata-rata: mampu melakukan hal-hal yang bahkan belum pernah dipelajari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt; Namun ada ciri spesifik yang harus dipastikan dalam menentukan apakah individu tsb indigo atau tidak, yakni:&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Memiliki aura berwarna nila (berdasarkan hasil foto aura)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Memiliki kemampuan spiritual bawaan: mengetahui sesuatu yang berada di luar kemampuan sensorinya (ESP: Extra Sensory Perception) &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1214217959_2"&gt;Anak&lt;/span&gt; indigo biasanya banyak bertanya, dan orangtuanya akan kewalahan menjawab. Umpamanya, kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Dia akan merasa heran untuk beberapa hal, yang dirasa tak masuk akal. Seringkali bersikap non-kompromistis terhadap segala sesuatu yang dinilainya bersifat pemaksaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebabkan ada ciri spesifik yang harus dipastikan, seperti tercantum di atas, then how to assess?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Foto Aura &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Observasi dan Wawancara: terkait dengan penggalian pola pikir, sikap2 dewasa (kebijaksanaan) dan pengalaman2 spiritual atau kemampuan ESPnya &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Intinya, klo ada di antara anda yang merasa memiliki ciri2 di atas, baru bisa mengaku indigo klo udah ada hasil poto auranya ya. makanya: yuukks rame2 foto aura, buat lucu2an juga boleehh, apalagi klo ternyata aura kita indigo kan kali aja bisa diundang jadi bintang tamu. hehehehehe...., psikolog indigo kan belum ada tuuhh...hahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dari ciri2 tsb di atas, such: suka berbicara sendiri, merupakan ciri2 abnormalitas, apakah indigo masuk kriteria diagnostik?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Istilah Indigo tidak terdapat pada DSM IV (Diagnostic N Statistical Manual for Mental Disorder), ataupun ICD-10 (Psikiatri).  SHg Indigo tidak dapat dianggap sbg ‘penyakit’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka harus dapat dibedakan antara indigo dengan kriteria2 lain, seperti:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Jika salah satu ciri indigo adalah Suka berbicara sendiri, hal ini tidak berarti bahwa anak indigo sama dengan Autisme, pun bukan childhood onset of schizophrenia &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Jika salah satu ciri indigo adalah Aktif dan cenderung ‘tidak bisa diam’, pemberontak. Hal ini tidak berarti bahwa anak indigo sama dengan Hiperaktif atau ADHD &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Jika salah satu ciri indigo adalah &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1214217959_3"&gt;Cerdas&lt;/span&gt;, dapat mengerjakan berbagai hal yang belum pernah diajarkan. Hal ini tidak serta merta menjadikan anak indigo ke dalam kriteria anak2 Gifted or Talented.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kira2 demikian penjelasan singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, yang menarik untuk dipaparkan dalam &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1214217959_4"&gt;forum diskusi&lt;/span&gt; ini adalah terkait bukti2, bahwa terdapat dilema yang terjadi pada diri individu indigo: &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Secara Kognisi: ada ‘jarak’ antara kemampuan intuisinya yang luar biasa dalam hal mempersepsikan dunia – dengan – ‘pengalaman pahit’ yang harus dialaminya atas ketidakadilan yang ditemui/dirasakan dari lingkungannya. Hal ini menimbulkan ‘rasa sakit’ dan perasaan tidak nyaman terhadap dirinya sendiri, merasa ‘tidak utuh’ (Un-Fullness). &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Disebabkan sering berfikir tentang hal2 yang berada di luar kewajaran, terkadang anak indigo menjadi sakit secara fisik &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;"&gt;&gt;&gt; lantas menjadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt; tertekan, represi ke alam mimpi &gt;&gt; terjadi mimpi buruk &gt;&gt; kemudian timbul reaksi2 fisiologis yang tidak sehat &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;" lang="SV"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Selain itu, dengan kelebihan yang dimiliki, cenderung membuat anak menjadi tidak realistis dan malas. "Kalau mereka konsentrasi dengan memusatkan energi, mereka bisa membayangkan soal-soal yang akan keluar dalam ujian. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Ini bisa membuat mereka jadi malas belajar." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Lantas, apa yang bisa kita lakukan terhadap mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;After-school programs: Mengulang pelajaran di sekolah, secara individual. Utamanya bagi mereka2 yang tidak bisa melibatkan diri dalam proses KBM di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konseling individual terkait dengan kesulitan-kesulitan yang ditemui selama di sekolah, juga dapat dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Konseling: Pendekatan kognitif, ditekankan pada aspek pengalaman-pengalaman spiritual atau ‘pengalaman ajaib’ yang dialaminya. Sebab, mereka sering merasa tidak berada di bumi (‘out of place in this world’) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Medication: ada dugaan bahwa dalam sistem limbik otak, terutama neurotransmiternya, terganggu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dirikan semacam perkumpulan bagi para indigo yang ‘petualang spiritual’: sebagai tempat berdiskusi, belajar bersama, dan sharing ide-ide atau sebagai tempat ‘penyembuhan diri’ (healing) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Memfasilitasi ‘proses teurapeutic’ bagi anak, utamanya terkait dengan kemampuan spiritual si anak, sehingga potensi-potensi luar biasa yang dimiliki oleh anak indigo ini dapat mengarahkan perilaku-perilakunya pada hal-hal positif saja. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Jembatani ‘jurang’ yang dimiliki anak indigo. ‘Jurang’ ini berupa: kemampuannya mempersepsikan dunia secara intuitif dan ‘luar biasa’, namun di sisi lain mereka juga merasakan ‘sakit’ dan ‘pahit’ akibat banyaknya ketidakadilan/ketidakberesan dari dunia di sekitar mereka. Proses ‘healing’ (pen-jembatan-an) ini akan secara perlahan mengurangi (bahkan menghilangkan) ‘rasa sakit’ atau ‘rasa tidak nyaman’ anak indigo terhadap kemampuan yang mereka miliki. Serta izinkan anak-anak ini memiliki ‘ruang’ bagi hidupnya, agar bermakna dan memiliki tujuan yang positif. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="FI"&gt;Kekuatan yang mereka miliki agar bisa diarahkan ke hal-hal yang positif&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; (kemanusiaan, misal: u/ penyembuhan, &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1214217959_5"&gt;pengambilan keputusan&lt;/span&gt; penting di masa depan, dll). FYI, di Amerika, individu2 indigo 'dimanfaatkan' untuk membantu negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Penting untuk diingat: agar tidak mengkomersialisasikan anak indigo ini dalam bentuk apapun, guna mencegah beban psikologis dan beban sosial pada diri anak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 6.5pt;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Untuk mengurangi ‘ketersiksaan’ anak atas kelebihan yang dimilikinya, terkadang penting pula untuk "menormalkan" anak-anak berdaya lebih ini. Dapat dilakukan dengan cara “menumpulkan" kemampuan si anak: orang tua dapat memberi pengertian bahwa apa yang diketahui si anak itu semata-mata faktor kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Last,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak indigo pada dasarnya seumur hidup akan indigo terus (berkembang menjadi 'indigo dewasa'). Di usia anak-anak, mereka kerap "berontak". Tapi ketika dewasa, karena sudah bisa menyesuaikan diri, sikap pemberontakannya berkurang. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;“Pendampingan" terhadap anak indigo sangat diutamakan, agar mereka bisa tumbuh secara wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pada indigo dewasa yang saya temui tsb, ternyata saat ditanyakan 'apakah capek dengan kemampuan luar biasa yang dimilikinya? dan apakah ingin menghilangkannya?' Jawabannya adalah 'YA! Tapi mau bagaimana lagi, ya dijalani saja'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;“Seorang anak harus tahu bahwa ia adalah keajaiban, sebuah mukjizat yang belum pernah ada sejak kejadian bumi, dan sampai &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1214217959_6"&gt;akhir zaman&lt;/span&gt; bahwa takkan ada anak lain yang seperti ia.” &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;~Pablo Casals~&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-8653159379925229770?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/8653159379925229770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=8653159379925229770' title='29 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/8653159379925229770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/8653159379925229770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2008/06/sharing-indigo.html' title='Sharing: Indigo'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>29</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-6740502347569137076</id><published>2008-02-07T20:32:00.001-08:00</published><updated>2008-02-07T21:05:36.692-08:00</updated><title type='text'>Loneliness</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(192, 192, 192);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jenis dan Dinamika Terjadinya &lt;i&gt;Loneliness&lt;/i&gt; Pada Masyarakat Modern&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Rena Latifa, M.Psi, Psikolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Diterbitkan dalam Jurnal 'Enlightmen'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Universitas Al-Azhar Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;Perasaan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; adalah sebuah fenomena universal yang dapat terjadi pada setiap individu dalam ras manapun, usia berapapun, dan sepanjang kehidupan sejarah manusia (De Jong Gierveld, 2002). Orang-orang kota yang hidupnya dikelilingi segala fasilitas ternyata ditemukan memiliki rasa &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; ini. Moustakas (1961) menyebutkan,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;pada masyarakat urban (perkotaan) yang impersonal lebih mudah ditemukan sebuah kondisi perasaan&lt;i&gt; loneliness&lt;/i&gt; (perasaan sepi atau sendiri – selanjutnya pada tulisan ini akan dipakai istilah &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;), di mana individu menemui individu lain tidak sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai bentukan dari tugas-tugas atau kewajiban dalam masyarakat saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah sebuah perkembangan dalam teknologi komunikasi yang sedemikian maju, yang memungkinkan berbagai jenis orang dari berbagai daerah di penjuru dunia untuk saling berkomunikasi, berbagi jasa, informasi maupun data melalui teknologi canggih misalnya, ternyata ditemukan orang-orang yang &lt;i&gt;feel lonely&lt;/i&gt; dan merasa sedih karena “sendiri” (Harmon, 1998). Lebih parahnya lagi, para ahli menyebutkan bahwa kondisi &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; ini merupakan kondisi awal dari terjadinya bentuk-bentuk psikopatologi yang lebih berat seperti depresi (Lauer &amp;amp; Lauer, 2000), stress, agresi, bunuh diri bahkan dapat memicu ke dalam berbagai bentuk kecanduan (cth: kecanduan narkoba, alkohol, internet, judi, dll) yang awalnya dikarenakan individu ingin melarikan diri dari rasa &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;nya tersebut (Perlman and Landolt, 1999).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Istilah &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; cukup banyak didefinisikan. Beberapa ahli yang dapat ditemui memberikan pemaparan tentang hal ini diantaranya adalah De Jong Gierveld (1999). Ia mendefinisikan &lt;i&gt;loneliness &lt;/i&gt;sebagai kondisi isolasi sosial yang subyektif (&lt;i&gt;subjective social isolation&lt;/i&gt;), di mana situasi yang dialami individu tersebut dirasa tidak menyenangkan dan tidak diragukan lagi terjadi kekurangan kualitas hubungan (&lt;i&gt;lack of quality of relationship&lt;/i&gt;). Selain itu, jumlah (kuantitas) jalinan hubungan yang ada pada individu juga ditemukan lebih sedikit dari yang diharapkan dan diterima, serta situasi &lt;i&gt;intimacy&lt;/i&gt; (keakraban) yang diharapkan juga tidak pernah terealisir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;Moustakas (1961) membagi &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; ke dalam jenis:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Loneliness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt; eksistensial (&lt;i&gt;existensial loneliness&lt;/i&gt;). Individu sadar sepenuhnya bila dia adalah soliter, tunggal, dan terisolasi. Isolasi terjadi karena adanya ketakutan, penolakan dan usaha individu untuk menghindar atau bahkan lari dari pengalaman &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;. Akibatnya individu tidak dapat maju dan berkembang sebagaimana seharusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;    Kecemasan akan &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;loneliness&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;loneliness anxiety&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;). Individu merasa “terpisah” dari dirinya sendiri, karena terdapat kesenjangan antara “diri” yang sebenarnya dengan “diri” yang dia inginkan. Kecemasan akan &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;loneliness&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt; ini juga terjadi karena individu kurang mampu memenuhi keinginannya untuk menjalin keintiman dengan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2002, De Jong Gierveld juga membedakan antara &lt;i&gt;state loneliness&lt;/i&gt; (terjadi sementara, sewaktu-waktu dan tidak berlangsung lama; hanya terjadi bila individu menghadapi sebuah situasi yang tidak dapat dihindari, seperti misalnya pada individu yang baru pindah rumah atau pindah kantor dapat mengalami perasaan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; juga) dan &lt;i&gt;trait loneliness&lt;/i&gt; (pengalaman &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; yang sering terjadi, berlangsung lama serta senantiasa datang; biasanya terjadi pada individu yang tumbuh dalam situasi penolakan atau ketidakperdulian dari lingkungan sekitar, sehingga &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; ini merupakan bentuk mekanisme dirinya dengan membuat jarak terhadap orang lain; individu belajar untuk tidak mempercayai orang lain karena orang lain dianggap hanya akan menyakitkan hati). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lauer dan Lauer (2000) menyebutkan 2 jenis &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;, yakni &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; sosial dan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; emosional. &lt;i&gt;Loneliness&lt;/i&gt; sosial terjadi akibat kurangnya hubungan interpersonal dari yang diinginkan, dan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; emosional terjadi akibat kurangnya hubungan yang intim atau akrab dari yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meng&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:100%;" &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;enai jenis &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; emosional dan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; sosial ini juga didefinisikan oleh Weiss (dalam Stroebe &amp;amp; Stroebe, et. al., 2003). &lt;i&gt;Loneliness&lt;/i&gt; emosional (&lt;i&gt;the loneliness of emotional isolation&lt;/i&gt;) dapat muncul pada tiadanya kelekatan emosional yang dekat (&lt;i&gt;close emotional attachment&lt;/i&gt;) dan hanya bisa diperbaharui melalui penyatuan emosional &lt;i&gt;attachment&lt;/i&gt; terhadap orang lain yang pernah dirasakan “hilang” tersebut. Contoh pernyataan yang mengindikasikan terjadinya &lt;i&gt;emotional loneliness &lt;/i&gt;ini yaitu: “Saya merasa sendiri dan sepi meski sedang bersama dengan orang lain”; “Saya sering merasa &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;”. Sementara &lt;i&gt;social loneliness&lt;/i&gt; dihubungkan dengan ketiadaan &lt;i&gt;social network&lt;/i&gt;, diakibatkan oleh kurangnya kerabat, teman, atau orang-orang dari lingkup sosial yang sama, di mana mereka dapat berbagi aktivitas atau minat yang sama. Ditandai perasaan bosan bersamaan dengan perasaan marginal(terpinggirkan). Individu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt; yang merasakan &lt;i&gt;social loneliness&lt;/i&gt; pada umumnya mengatakan: “Saya memiliki teman-teman dan relasi yang sesuai dengan selera saya (yang saya inginkan saja)”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beck dan Young (dalam Peplau &amp;amp; Perlman, 1982) menyatakan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; terbagi atas&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;:&lt;br /&gt;   Loneliness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt; kronis (&lt;i&gt;Chronic loneliness&lt;/i&gt;), terjadi apabila setelah jangka waktu bertahun-tahun seorang individu tidak mampu untuk mengembangkan relasi sosial yang memuaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Loneliness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt; situasional (&lt;i&gt;Situational loneliness&lt;/i&gt;), terjadi saat seseorang mengalami perubahan besar dalam hidup yang mengakibatkan stres, misalnya kematian pasangan hidup, kematian anak, berakhirnya pernikahan, dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Loneliness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt; transien (&lt;i&gt;Transient loneliness&lt;/i&gt;), merupakan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; yang paling umum, terjadi secara singkat dan tidak mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;William Sadler (1975) mendeskripsikan bentuk-bentuk &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Interpersonal loneliness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;. Manakala individu merindukan seseorang yang dahulu pernah dekat dengannya. Tipe &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; ini melibatkan kesedihan yang mendalam. Individu selalu mencari-cari orang baru untuk dicintai. Tapi jika menemukan orang yang potensial menjadi pasangan barunya sebelum ia mampu mengatasi kesedihan terdahulu, maka individu akan takut atau menolak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Social loneliness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;. Individu merasa terpisahkan dari kelompok di mana dia merasa berarti. Tipe &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; ini sering menghinggapi kaum minoritas. &lt;i&gt;Loneliness&lt;/i&gt; sosial secara lebih akurat didefinisikan sebagai perasaan ketika individu tidak ingin terpisah dari kelompok sosial yang dianggap penting bagi kesejahteraannya dan tidak ada hal yang dapat ia lakukan untuk mengatasi hal itu sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Culture Shock&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;. &lt;i&gt;Loneliness&lt;/i&gt; ini terjadi ketika individu pindah ke suatu lingkungan kebudayaan baru. &lt;i&gt;Loneliness&lt;/i&gt; ini kemungkinan melibatkan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; sosial juga karena beberapa kebudayaan masih tidak mudah untuk menerima orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Cosmic loneliness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;.&lt;i&gt; S&lt;/i&gt;etiap orang terkadang merasakan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; kosmik. &lt;i&gt;Loneliness&lt;/i&gt; kosmik juga dikenal sebagai &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; eksistensial, yaitu perasaan ketidakmungkinan untuk menjalin suatu hubungan yang sempurna dengan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Psychological loneliness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;. Jenis &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; ini datang dari kedalaman hati individu, baik itu yang berasal dari situasi masa kini ataupun sebagai reaksi dari trauma-trauma masa lalu (Criswell, 1999, dalam Working Through Loneliness).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Penyebab Loneliness&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa penyebab dari &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;. Rokach (1998) menyatakan bahwa &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; merupakan suatu pengalaman universal yang dialami oleh setiap manusia. Sebagai pengalaman subyektif yang unik, &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; disebabkan oleh lingkungan personal individu, perubahan sosial yang terjadi, maupun sejarah pribadi dari individu itu sendiri. Tiap manusia pasti pernah mengalami &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa sepi disebabkan oleh perasaan akan keterpisahan yang tidak dapat ditoleransi lagi, pada tingkatan yang paling dalam. Pada beberapa tingkatan, hal tersebut merupakan emosi yang normal, bagian dari masa pertumbuhan. Ketika lahir kita sudah memulai proses keterpisahan ini, pertumbuhan menjadi seorang individu. Pada bulan-bulan pertama masa bayi, ketika kesadaran akan keterpisahan mulai terbentuk, dengan sendirinya kebutuhan akan menjalin hubungan juga terbentuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sullivan (1953), &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; merupakan pengalaman paling menyakitkan yang dialami manusia, yang terjadi ketika kebutuhan akan kontak tidak terpenuhi. Menurut Sullivan, &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; pertama kali terjadi yaitu pada masa remaja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fromm-Reichmann (1959) menggarisbawahi bahwa &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; sudah dimulai sejak masa kanak-kanak dan ketika bayi mulai disapih. Beliau menyebutkan bahwa manusia merasa terancam ketika kehilangan batas-batas dunia mereka serta kehilangan kemampuan membedakan antara dunia subjektif dan dunia objektif mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Jong Gierveld (1999) menyebutkan, kondisi &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; ini dapat dengan mudah terjadi manakala terdapat kesenjangan antara keinginan individu untuk mendapatkan afeksi dan kehangatan dari orang lain dengan kenyataan yang dimiliki individu (individu kenyataannya tidak mendapat afeksi dan kehangatan sesuai harapannya: teman yang dimiliki tidak sebanyak gambaran jumlah teman yang diinginkan, orang dekat yang dimiliki tidak sesuai dengan harapan kedekatan yang diinginkan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokach dan Sharma (dalam Lauer &amp;amp; Lauer, 2000) lebih lanjut menyatakan bahwa &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; mencerminkan kegagalan individu untuk berintegrasi dengan lingkungan. Kegagalan ini mengakibatkan individu tidak lagi merasa menjadi bagian yang berarti dan penting dari suatu kelompok. Pada beberapa orang, rasa &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; lebih bersifat konstan dan tidak terkait dengan kejadian eksternal ataupun masa. Terkadang, ada orang yang merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri ataupun merasa bahwa dirinya tidak disukai oleh orang lain. Mereka mungkin mempunyai &lt;i&gt;self esteem&lt;/i&gt; yang rendah dan kurang percaya diri (terkadang ingin menjadi seperti orang lain). Akar muasal &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; bisa disebabkan karena tidak dicintai ketika kecil, sehingga ketika dewasa mereka melanjutkan perasaan tidak berharga dan tidak dicintai itu dalam setiap hubungan yang terjalin, termasuk hubungan dengan diri mereka sendiri (De Jong Gierveld, 2002). Terkadang orang menarik diri mereka sendiri, sadar atau tidak sadar, untuk menghindari perasaan terluka. &lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larry Yeagley (tanpa tahun) mengatakan bahwa &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; dapat disebabkan oleh berbagai faktor sosial, yakni:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Kemandirian dan ketergantungan diri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Dua hal tersebut sering      didengungkan sebagai sebuah usaha untuk mencapai kemajuan dan sukses.      Kerja tim tampaknya sudah tergantikan oleh inisiatif individu. Sehingga      individu merasa tidak lagi perlu untuk berhubungan dan tergantung pada      orang lain, hal ini menyebabkan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Kompetisi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Hal ini dimulai sejak taman kanak-kanak dan      diterapkan di rumah, tempat kerja, dan di mana saja. Paul Tournier secara      tegas menyatakan hal tersebut membuat manusia tidak lagi membutuhkan teman      dan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; adalah hasilnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Segregasi kelompok usia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Anak-anak menghabiskan sebagian      besar waktunya bersama teman sebaya. Orang-orang tua meninggalkan rumah      dan lebih memilih rumahnya diurus oleh para pembantu serta menyewa      pengasuh untuk anak-anaknya. Situasi &lt;i&gt;trans&lt;/i&gt;-generasi yang tidak      adekuat ini menyebabkan isolasi pada individu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Suburban sprawl&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt; (perpencaran karena pengaruh sub-urban).      Banyak rumah tangga di dunia (terutama di negara-negara besar) terpisah      dari keberadaan tetangganya dan tidak lagi ditemukan perbincangan antar      tetangga dari balik pagar rumah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Hiburan di rumah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Komputer dan video menawarkan hiburan yang      lebih personal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan menggantikan      fungsi pertemuan di tempat sosial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Kejahatan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Orang kota menghindari interaksi yang tidak      perlu dan memilih tinggal di rumah dengan pintu terkunci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Mobilitas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Jumlah frekuensi pergerakan individu      (mobilitas sosial) yang terlalu cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Latchkey children&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Keterpisahan dari orang tua dalam jangka      waktu cukup lama berpotensi menyebabkan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt; pada anak-anak      dan remaja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Perceraian&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Kebebasan individu hal yang paling utama.      Tanggung jawab terhadap orang lain dan setia terhadap komitmen bukan hal      prioritas yang dianjurkan oleh konselor pernikahan. Penolakan dan &lt;i&gt;loneliness&lt;/i&gt;      meningkat sejalan dengan bertambahnya angka perceraian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Isolasi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;. Banyak faktor yang ikut berkontribusi dalam      isolasi individual dan keluarga. Sebagai contoh, orang tua tunggal terlalu      sibuk untuk perkembangan pribadi dan perkembangan sistem &lt;i&gt;support&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;   Penyakit&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);" lang="IN"&gt;, juga menyebabkan orang tinggal di rumah dan      menghindari sosialisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan lengkap dapat menghubungi penulis  ;) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-6740502347569137076?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/6740502347569137076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=6740502347569137076' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/6740502347569137076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/6740502347569137076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2008/02/loneliness.html' title='Loneliness'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-6838602625063916518</id><published>2008-02-07T20:02:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T20:21:25.161-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan Novel'/><title type='text'>Rahasia Kebahagiaan</title><content type='html'>Seorang anak muda menemui seorang bijak di sebuah istana untuk mengetahui 'rahasia kebahagiaan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijak itu mendengarkan dengan penuh perhatian keterangan si anak ttg alasan dia datang, tapi berkata bahwa dia tak punya waktu untuk menerangkan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak itu untuk melihat-lihat istana dan kembali dalam dua jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sambil kamu melihat2, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku," Kata orang bijak itu, menyodorkan sendok teh berisi dua tetes minyak. "Sambil kamu keliling, bawalah sendok ini tanpa menumpahkan minyaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak tadi mulai naik turun tangga2 istana, dengan pandangan tetap ke arah sendok itu. Setelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat si orang bijak berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah," tanya orang bijak itu, "apakah kamu melihat tapestri Persia yang tergantung di ruang makanku? Apakah kamu melihat taman yang ditata pakar pertamanan selama sepuluh tahun itu? Apakah kamu memperhatikan kertas-kulit yg indah di perpustakaanku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu merasa malu, dan mengaku dia tidak memperhatikan apa-apa. Perhatiannya hanya tertuju pada minyak di sendok itu supaya tidak tumpah, seperti yg dipercayakan si orang bijak kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kembalilah dan perhatikan duniaku yang mengagumkan ini," kata si orang bijak. "Kamu tidak dapat mempercayai orang kalau kamu tidak tahu rumahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lega, anak itu mengambil sendok tadi dan kembali menjelajahi istana itu, kali ini dia memperhatikan semua karya seni di atap dan dinding-dinding. Dia melihat taman2 dan pergunungan di sekelilingnya, bunga2 yang indah, dan mengagumi selera di balik pemilihan segenap hal yang ada di sana. Sekembalinya dia ke orang bijak itu, dia mengungkapkan secara terinci semua yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi mana minyak yg kupercayakan padamu?" tanya si orang bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang ke sendok yg dipegangnya, anak itu melihat minyak tadi telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, hanya ada satu nasihat yg bisa kuberikan padamu," kata manusia terbijak itu. "Rahasia kebahagiaan adalah melihat semua keindahan dunia, dan tak pernah melupakan tetesan minyak di sendok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ Sang Alkemis (Coelho) ~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-6838602625063916518?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/6838602625063916518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=6838602625063916518' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/6838602625063916518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/6838602625063916518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2008/02/rahasia-kebahagiaan.html' title='Rahasia Kebahagiaan'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-3107654836025066143</id><published>2008-02-07T04:57:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T04:59:19.645-08:00</updated><title type='text'>Puisi adalah Mantra</title><content type='html'>Puisi adalah mantra bagimu&lt;br /&gt;Bacakan puisi pada orang yang linglung&lt;br /&gt;Dan dendangkan lagu untaian jiwa untuk orang bingung&lt;br /&gt;Agar mereka tersadar dari pengapnya arus hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah mantra bagimu&lt;br /&gt;Ketika kau sulit menidurkan anakmu&lt;br /&gt;Ambil cawan berisi rendaman kata dalam mutiara&lt;br /&gt;Dan siratkan pada tangis bocah kala malam menjelang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah mantra bagimu&lt;br /&gt;Ketika kau gusar dengan keresahan hatimu&lt;br /&gt;Ambil manuskrip usang yang dulu pernah aku tulis&lt;br /&gt;Dan legalkan pada kesahajaan kata-kata sanguinis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah mantra bagimu&lt;br /&gt;Ketika engkau merasa tidak tenang dengan cintamu&lt;br /&gt;Percikkan anggur cinta untuknya&lt;br /&gt;Dan selipkan sebuah kata makna sayang padanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~&lt;span class="small"&gt;Jack Effendi      &lt;/span&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: Bener deh, secara psikologis, jika puisi dianggap sbg 'Mantra' maka ia memberikan efek 'healing' yang mujarab. Mari gemar menikmati puisi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-3107654836025066143?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/3107654836025066143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=3107654836025066143' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/3107654836025066143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/3107654836025066143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2008/02/puisi-adalah-mantra.html' title='Puisi adalah Mantra'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-5691502871146373990</id><published>2008-01-18T03:45:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T03:51:37.128-08:00</updated><title type='text'>Anak-Anak Hidup dari apa yang mereka Pelajari</title><content type='html'>Jika seorang anak hidup dengan kecaman,&lt;br /&gt;ia belajar menyalahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan permusuhan,&lt;br /&gt;ia belajar kekerasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan cemoohan,&lt;br /&gt;ia belajar menjadi pemalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan rasa malu,&lt;br /&gt;ia belajar merasa bersalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan dorongan semangat,&lt;br /&gt;ia belajar percaya diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan pujian,&lt;br /&gt;ia belajar untuk menghargai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan kejujuran,&lt;br /&gt;ia belajar keadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan keamanan,&lt;br /&gt;ia belajar iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan restu,&lt;br /&gt;ia belajar menyukai dirinya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang anak hidup dengan dukungan, semangat dan persahabatan,&lt;br /&gt;ia belajar mengasihi dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Anonymous--&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-5691502871146373990?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/5691502871146373990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=5691502871146373990' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/5691502871146373990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/5691502871146373990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2008/01/anak-anak-hidup-dari-apa-yang-mereka.html' title='Anak-Anak Hidup dari apa yang mereka Pelajari'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-4957068192679712478</id><published>2008-01-18T03:37:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T03:39:03.760-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Ayah Vs Anak Lelakinya</title><content type='html'>Judul Buku: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ayah Vs Anak Lelakinya (Panduan Bagi Orang tua, Khususnya Ayah, Dalam Menjalin Hubungan Yang Harmonis Dengan Anak Lelakinya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ieda Poernomo Sigit Sidi, Psikolog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki dalam keluarga memang punya posisi berbeda dari anak perempuan. Ada harapan, kegalauan, cemas, mengiringi bahagia yang tersimpan di hati karena punya anak lelaki. Benarkah akan selalu begitu pendapat dunia tentang lelaki yang membuat sebagian ayah gamang dan anak lelakinya bingung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini akan menguak beberapa kisah nyata yang diambil dari meja praktik penulis sebagai psikolog selama 30 tahun lebih. Dari kisah-kisah tersebut, ternyata figur ayah bisa disimpulkan dalam nuansa kebanggaan, kewajiban, kecemasan. Secara fisik, ayah diposisikan sebagai pelindung. Secara emosional dan spiritual, ayah diharapkan bisa menjadi pembimbing. Namun, kenyataannya akan berbicara lain. Lalu, muncul reaksi anak yang cukup beragam, terutama mereka yang berstatus sulung, atau anak lelaki yang ternyata hanya satu-satunya dalam keluarga. Begitu juga banyak kecamuk perasaan ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang di antara kekaguman terhadap ayah terselip kekecewaan dan....kemarahan! Keperkasaan ayah memunculkan kekaguman namun kekerasannya membuat anak bergidik dan merasa tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar keinginan untuk dapat memberikan yang terbaik untuk keluarga, ayah sibuk di luar rumah. Konsentrasi ayah yang terlalu penuh pada pekerjaan seringkali digambarkan di masyarakat sbg hal yang berdampak negatif pada keluarga. Isteri menjadi kesepian, anak-anak hanya bertemu dengan potret dan cerita tentang ayah. Kemudian anak akhirnya mencari figur di luar rumah dan tumbuh tanpa figur yang 'baik' yang diharapkan berasal dari ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, ada dikisahkan tentang anak lelaki yang di masa dewasanya berselingkuh dengan alasan 'sakit hati' dan 'memodel' sang ayah, sbg pembenaran atas perbuatannya. Ada pula tentang lelaki dewasa yang bercermin dari perilaku 'dingin' dan 'sok wibawa' ayahnya di masa lalu, lantas lelaki ini justru menjadi ayah yang hangat bagi anak2nya dengan tujuan agar anaknya kelak tidak merasakan 'kekosongan diri' seperti apa yang dialaminya di masa lalu atas perlakuan 'dingin' sang ayah tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 127);"&gt;Mendidik tak ubahnya seperti menenun sehelai kain. Setiap saat diperlukan kejelian dan kecermatan dalam merangkai benang, helai demi helai. &lt;/span&gt;Perhatian dan pendekatan ayah, interaksi ayah dan anak lelakinya di sepanjang tahapan perkembangan anak sangat menentukan corak kepribadian anak. Hasil pendidikan memang tidak bersifat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1200656201_0"&gt;segera&lt;/span&gt;, ada proses yang harus dilalui secara aktif bersamaan dengan waktu yang  terjalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang penulis inginkan lewat buku ini, yakni: ingin mengajak para ayah menukik ke dalam dirinya sendiri, jauh sebelum anak lahir, agar siap melaksanakan tugas sebagai pemegang amanah. Sebab anak adalah titipan Tuhan yang kelak harus dipertanggungjawabk an. Penulis juga ingin, sekaligus, mengajak anak lelaki yang kelak akan menjadi ayah, untuk bercermin pada pengalaman sendiri. Bercermin dari pengalaman sendiri tentunya akan lebih bermanfaat jikalau disertai pemahaman yang utuh dan menyeluruh (tentang relasi ayah-anak lelaki) agar tak timbul dendam yang tak perlu, apalagi sampai bergeming dan menjadi karung beban ketika harus melangkah ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-4957068192679712478?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/4957068192679712478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=4957068192679712478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/4957068192679712478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/4957068192679712478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2008/01/ayah-vs-anak-lelakinya.html' title='Ayah Vs Anak Lelakinya'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-4326153923134922533</id><published>2007-12-02T08:22:00.000-08:00</published><updated>2007-12-02T08:24:06.769-08:00</updated><title type='text'>Bersepatu Hak Tinggi, dapat memicu Schizophrenia</title><content type='html'>Pas mata kul diagnostik, mhsw ada yang nunjukin sebuah hasil penelitian ttg schizophrenia. Kata penelitian tsb: 'Bersepatu Hak Tinggi, dapat memicu Schizophrenia'. Logikanya dijelaskan seperti ini: saat tumit sering terangkat secara tidak sejajar dengan bagian jemari kaki, saat itu beban tertumpu pada jemari dan memicu peningkatan neurotransmitter bernama Dopamin di dalam otak. Schizophrenia ini ditengarai dapat terjadi manakala jumlah Dopamin meningkat/berlebihan jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah loh, besok jangan rajin2 pake sepatu ber-hak ya bu, meski feel more 'anggun' dengan sepatu hak (dan feel more 'psikolog banget', sebab katanya jd psikolog itu harus enak diliat), ya dikurangin lah bu klo gak mau schizophren. Masa' udah narcis kronis, schizophren pula sih bu? emangnya mau koleksi jenis2 abnormalitas ya bu? Hihihi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-4326153923134922533?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/4326153923134922533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=4326153923134922533' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/4326153923134922533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/4326153923134922533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/12/bersepatu-hak-tinggi-dapat-memicu.html' title='Bersepatu Hak Tinggi, dapat memicu Schizophrenia'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-8569896229373384865</id><published>2007-10-31T01:42:00.000-07:00</published><updated>2007-10-31T01:48:24.167-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lirik lagu'/><title type='text'>Lirik lagu The Red Molotov</title><content type='html'>Walaupun Kau telikung jalan kami,&lt;br /&gt;Walaupun Kau jegal langkah kami,&lt;br /&gt;Pastikan bahwa kami akan tetap mencintaiMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Kau singkirkan diri kami,&lt;br /&gt;Walaupun Kau hinakan jati diri kami,&lt;br /&gt;Pastikan bahwa kami akan tetap mencintaiMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akan tetap berarak, bersatu, menuju pasti kemenangan&lt;br /&gt;Bukan semu tapi nyata&lt;br /&gt;Bahwa keberanian adalah senjata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Teruntuk jiwa2 yang merasa lelah: tetap semangatt!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-8569896229373384865?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/8569896229373384865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=8569896229373384865' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/8569896229373384865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/8569896229373384865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/10/lirik-lagu-red-molotov.html' title='Lirik lagu The Red Molotov'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-1111761806685240321</id><published>2007-10-29T07:52:00.001-07:00</published><updated>2007-10-29T09:01:26.513-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita pendek yang bener2 pendek'/><title type='text'>Kisah Ulat dan Kura-Kura</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Suatu hari ayah bercerita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah kura2 kecil bertemu dengan ulat 'nakal'.&lt;br /&gt;Si kura2 hanya senang berlindung di balik cangkangnya. Sebab dengan cangkangnya ia dapat melindungi kerapuhannya.&lt;br /&gt;Sementara ulat tampak liat, gemar meliuk2 dan bercengkrama dengan ragam hewan lainnya. Dia juga pandai menarik minat si kura2 untuk menjadi teman akrabnya. Membuat kura2 menjadi 'terbuka' dan semakin sering keluar dari cangkangnya, demi mendengar cerita si ulat setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kura2 seringkali terpana dengan kisah2 ulat, maka kura2 menjulukinya 'ulat nakal'. Betapa tidak ia menjulukinya sbg 'ulat nakal'? Ulat tampak sering melompat2 mencicipi ragam rasa dalam hidupnya. Ia meloncat2 dari tanah kering ke tanah basah, dari dataran tinggi ke dataran rendah, dari daratan ke lautan, terkadang hanya untuk alasan yang sepele: yakni sekedar membantu menyenangkan hati teman2nya. Meski harus mengorbankan keselamatannya sendiri, ulat rela berbuat, entah. Ulat juga mampu survive di tengah 'kekecilannya' sbg ulat dibanding dengan hewan2 lainnya yang raksasa. Terkadang ulat juga 'nakal' menggoda kuntum bunga yang disinggahinya, pun menggoda bintang2 di angkasa dengan puisi2 gubahannya. Sungguh nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kura2 senang menemani ulat bercengkrama, berlama2, men-ceng-krama-kan aneka rupa pesona kejadian dunia. Seringkali kura2 merasa bahwa dirinya terlalu bawel, dengan banyak pertanyaan yang sering diajukannya pada ulat dan menuntut ulat untuk memberikan jawaban2 atas semua pertanyaannya. Ulat yang nakal, sering sekenanya saja memberikan jawaban jika sudah kehabisan akal, atau malah hanya menjawab dengan tertawa. Ihhhh, kura2 sering kesal: bukannya dijawab, malah ketawa. Tapi kura2 bahagia, sebab ada yang mendengarkannya, mendengarkan kura2 yang selama ini lebih sering berteriak dari dalam cangkang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam2 mereka adalah malam2 interaksi yang selalu dipenuhi kejutan akan jutaan pertanyaan dari si kura2. Serta dipenuhi jawaban2 nakal dari si ulat nakal. Semuanya indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah, lantas mengapa kura2 begitu terpana pada ulat? bukankah mereka dua jenis makhluk yang berbeda? mengapa kura2 tidak terpana pada kura2 lainnya saja? apakah ia tidak memiliki teman sesama kura2?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah berkata: ketulusan hatilah akar dari semuanya, ketulusan hati ulat dalam menghadapi hidupnya membuat kura2 terpana dan menstimulasi munculnya ketulusan hati si kura2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas ayah, apakah keduanya dapat tetap saling berbagi cerita selamanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah berkata: anakku, tak ada yg abadi di dunia, demikian pula dengan mereka. Mereka hanya bagian kecil dari mozaik alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas, akhir ceritanya bagaimana ayah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setau ayah, ayah hanya sempat mendengar saat si kura2 berdoa, begini kira2 doanya: Ya Tuhan, yang menciptakan diriku sebagai kura2, jadikanlah si ulat di suatu hari nanti tidak lagi menjadi ulat yg nakal. Semoga ulat, setelah melampaui masa2 'pertapaan'nya yang penuh uji dan coba, ia dapat bermetamorfosis menjadi kupu2 yang indah. Terbang bangga mengembangkan sayapnya, menatap dunia. Meski tanpa bersama kura2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, kura2 harus pergi, atas sebuah kondisi yang tak diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, ayah juga sempat mendengar bisikan lirih dari kura2, saat kura2 beranjak hendak meninggalkan ulat yang ada di belakangnya. Kura2 berbisik sambil menunduk, namun langkahnya tetap dikuatkan, lirih bisikannya seperti tanpa harapan: Ulat, tolong temani kura2 ya jika kura2 suatu saat kelak kembali kepada tanah. Kan ulat biasanya suka menjadi teman bagi makhluk2 bernyawa yang telah menemui ajalnya kan? Biar kura2 gak merasa takut akan gelap di bawah tanah dan tetap bisa bercerita banyak pada ulat, seperti dulu. Maafkan kura2 ya, ulat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-1111761806685240321?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/1111761806685240321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=1111761806685240321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/1111761806685240321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/1111761806685240321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/10/kisah-ulat-dan-kura-kura.html' title='Kisah Ulat dan Kura-Kura'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-8591973222550874280</id><published>2007-10-18T05:21:00.000-07:00</published><updated>2007-10-26T09:44:30.378-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita pendek yang bener2 pendek'/><title type='text'>Pelajaran Psikologis dari Sebuah Cerpen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;--Aku dan Sendal Jepitnya--&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Once upon a time,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang cwo yang lagi pe-de-ka-te ama cwe idolanya (hah? 'idol'? vokalis indonesian idol yah tuh cwe? clarkkent clarkkent clarkkent alias ck...ck...ck...).&lt;br /&gt;Trus cwo ini usaha banget ngajakin ngobrol tuh cwe sambil jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selftalk cwo: "duh ni cwe jalannya ngebut banget, ngos-ngosan juga nih. ah, u ngebut i kejar lah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si cwe, saking kurang empatinya, dia mah ngebut aja, cuek bebek gak peduli ama kondisi cwo yang jalan bareng dia. Udah biasa ngejar copet kali tuh cwe yaa, jd jalannya ngebut, atau udah biasa dikejar2 copet N tuh cwo dicurigai sbg copet. Takut dicopet kali yaa tuh hatinya si cwe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil jalan yang ngos-ngos-an ituu, si cwo nawarin bukunya buat dipilih si cwe sbg pemberian special. Parah! masa' mau ngasih buku ke cwe, sbg pemberian special, eh bukunya gak dibungkus kertas kado atao pita atao apa kek yang mengesankan romantis2 gituuu, masih ada harganya pula tertempel di buku tsb! Clarkkent clarkkent clarkkent...., ya pastinya laahh tuh cwe milih bukunya yang paling mahal aja, sebab ni cwe pernah denger pepatah bahwa 'yang mahal itu pasti bagus'. Hihihi, kind of cwe matre juga kali yee tuh cwe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus, tiba2 nih sendal jepitnya cwo putus, n cwo gak berenti jalannya (masih tetap mengimbangi irama jalan si cwe), sambil ngambil sendalnya (dipindahin dari kaki ke tangan), diutak-utik bagian yg putusnya dengan cepat (sret-sret-sret), sementara sebelah kakinya itu tetep jalan sambil nyeker (you know nyeker? bertelanjang kaki!). OMG! Gubrak deh! Gak nyadar apah klo dalam proses pe-de-ka-te itu harus yang bagus2 ajah yg ditampilin? Emang gak pernah denger istilah 'Better Judge a book by its cover'?? Cwo yang anneehhh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si cwe, yg menyadari hal tsb, cuma bisa pasang tampang datar, padahal dalem otaknya pengen banget ngasi sinyal ke bagian bibir dan rahang dan wajah untuk dapat bergerak2 dengan cepat menandakan pose tertawa ngakak, serta tak lupa menginginkan otaknya tsb untuk mengirimkan sinyal pula ke bagian pita suara agar dapat mengeluarkan suara tertawa sekeras2nya. Hua-ha-ha-ha-ha-ha-hak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya..ya...ya...rupanya sendal jepit juga bisa berempati pada tuannya yang sedang grogi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klo sendal jepit saja bisa berempati, maka si cwe juga mulai berempati pada si pencopet pemilik sendal jepit, sejak peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lesson Number 1: Jangan sekali2 maksain jalan ama cwe yang suka jalan ngebut, apalagi klo napasnya gak kuat&lt;br /&gt;Lesson Number 2: Jangan sekali2 maksain jalan ama cwe yang suka jalan ngebut, apalagi klo pake sendal jepit yang mau putus pula&lt;br /&gt;Lesson Number 3: Berjuanglah demi cinta, wlo apapun yang terjadi, dan wlo malu2in diri sendiri&lt;br /&gt;Lesson Number 4: Ternyata cinta memang bisa mengalahkan segala2nya, termasuk mengalahkan sendal jepit yang mau putus jd 'berdamai' dan mau dibenerin lagi tuh sendal jepitnya gak jd rusak deh :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini bisa jadi akan menjadi sebuah Tetralogi atau bahkan Hexalogi atau logi2 lainnya jika banyak, sangat bergantung pada kisah2 selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai jumpa dan salam dari 'penutur cerita' yang ingin di-anonimuskan karya2nya untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-8591973222550874280?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/8591973222550874280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=8591973222550874280' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/8591973222550874280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/8591973222550874280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/10/pelajaran-psikologis-dari-sebuah-cerpen.html' title='Pelajaran Psikologis dari Sebuah Cerpen'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-3167385852988607364</id><published>2007-10-16T23:19:00.000-07:00</published><updated>2007-10-16T23:32:09.338-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kutipan'/><title type='text'>Love, ourselves N freedom</title><content type='html'>&lt;span class="MsgBodyText"&gt;&lt;span style="font-family:Courier;"&gt;&lt;span style="color:darkblue;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;"love is not to be found in someone else, but in ourselves, we simply awaken it. but in order to do that, we need the other person, the universe only makes sense when we have someone to share our feelings with"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsgBodyText"&gt;Freedom only exists when love is present. The person who gives him or herself wholly, the person who feels freest, is the person who loves most wholeheartedly. And the person who loves wholeheartedly feels free. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="MsgBodyText"&gt;&lt;span style="font-family:Courier;"&gt;&lt;span style="color:darkblue;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;from ELEVEN MINUTES (maria's diary)&lt;br /&gt;Paulo Coelho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-3167385852988607364?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/3167385852988607364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=3167385852988607364' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/3167385852988607364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/3167385852988607364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/10/love-n-ourselves.html' title='Love, ourselves N freedom'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-7130034774276824105</id><published>2007-10-11T05:43:00.001-07:00</published><updated>2007-10-11T06:15:42.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Wajib Hunting niyh!</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-style: italic; font-weight: bold;font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!" &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-style: italic; font-weight: bold;font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: normal; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-family:courier new;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_mhEWNMolDiI/Rw4awi4OOdI/AAAAAAAAABc/fT8TQFP2zXY/s1600-h/edensor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 113px; height: 142px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_mhEWNMolDiI/Rw4awi4OOdI/AAAAAAAAABc/fT8TQFP2zXY/s200/edensor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5120059247665494482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian, petikan dari novel terbaru Andrea Hirata yang berjudul Edensor, buku ketiga dari rangkaian empat novel yang dinamakan Tetralogi Laskar Pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov). &lt;/p&gt;Gilaaa, kalimat2nya inspiring bangeeee....d!&lt;br /&gt;Pengen banget bisa jd manusia yg bisa 'menantang hidup' dan 'berpetualang' seperti itu. Aduh, tapi konstruksi pikir tradisional sbg perempuan yg harus begini harus begitu, makes me harus berpikir berulang2 nih. Hiks. Andai aku berani.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-7130034774276824105?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/7130034774276824105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=7130034774276824105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/7130034774276824105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/7130034774276824105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/10/wajib-hunting-niyh.html' title='Wajib Hunting niyh!'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mhEWNMolDiI/Rw4awi4OOdI/AAAAAAAAABc/fT8TQFP2zXY/s72-c/edensor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-2442963354256633249</id><published>2007-10-09T10:21:00.000-07:00</published><updated>2007-10-09T10:40:18.153-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Puisi'/><title type='text'>Bahkan puisi pun mengandung makna psikologis</title><content type='html'>Mending Wall&lt;br /&gt;--Robert Frost--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;dl&gt;&lt;dd&gt;Something there is that doesn't love a wall,&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;That sends the frozen-ground-swell under it,&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;And spills the upper boulders in the sun;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;And makes gaps even two can pass abreast.&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;…&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;'Why do they make good neighbors? Isn't it&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;Where there are cows? But here there are no cows.&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;Before I built a wall I'd ask to know&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;What I was walling in or walling out,&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;And to whom I was like to give offense.&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;Something there is that doesn't love a wall,&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;That wants it down.'&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;…&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meresapi puisi di atas, ibarat mengungkap paradox dalam kemanusiaan manusia. Bahwa kita (manusia) menginginkan sebuah 'dinding', sebuah jarak untuk melindungi diri kita dari orang lain (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;outsiders&lt;/span&gt;), tapi juga di sisi lain kita butuh masa2 di mana 'dinding' tsb runtuh shg kita dapat berinteraksi dengan manusia lainnya. What a paradox!&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Proverb" title="Proverb"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1191949882_1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Kalimat&lt;/span&gt; "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Good fences make good neighbors&lt;/span&gt;" dimaknai sebagai '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;positive sense in general conversation&lt;/span&gt;'. Maksudnya, coba deh inget2 dalam percakapan sehari2, klo kalimat2 yg kita utarakan pada lawan bicara kita adalah kalimat2 yg baik, secara otomatis (dalam konteks normal) si lawan bicara akan tergerak menghargai dan menyampaikan kalimat yang baik pula kepada kita. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang dimaksud sbg 'The fence' (pagar) tak lain adalah pikiran kita, imaginasi yang tak ingin diganggu (saat imaginasi tsb sdg bekerja) namun sangat ingin dibagi dengan orang lain yang berada di luar diri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hum, unik ya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-2442963354256633249?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/2442963354256633249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=2442963354256633249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/2442963354256633249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/2442963354256633249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/10/bahkan-puisi-pun-mengandung-makna.html' title='Bahkan puisi pun mengandung makna psikologis'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-2592761710290383509</id><published>2007-09-21T06:41:00.000-07:00</published><updated>2007-10-18T07:09:03.743-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Populer'/><title type='text'>Kenapa kadang kita 'seolah' sulit menemukan cinta?</title><content type='html'>&lt;h2 face="arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="author_fmt"&gt;Pernah nonton serial &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Desperate Housewives&lt;/span&gt;? Menggambarkan seorang Gabrielle Solis yang memiliki suami kaya, rumah besar dan jumlah rekening yang tak terbatas. Namun di balik semuanya itu ia mendeskripsikan kehidupan rumah tangganya sbb:&lt;br /&gt;'Saya memiliki segalanya, namun segala yang saya miliki itu ternyata adalah kesalahan'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, bercermin dari serial tersebut, kita dapat memetik sebuah hikmah. Bahwa jika tahu bagaimana memilih teman hidup, maka tak perlu 'terjebak' dalam kondisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;desperado&lt;/span&gt; nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli mengatakan bahwa kita pada umumnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;clueless &lt;/span&gt;tentang apa2 yg kita inginkan, tak tahu tentang keinginan diri sendiri. Kita mencari-cari dan terus mencari apa yang dinamakan sbg 'soulmate', kemudian berganti2 pasangan, bertukar2 pacar dari pacar satu ke pacar lainnya, namun tak menjamin pada kebahagiaan, at the end. Dan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;still&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the divorce rate go higher and higher&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenali dirimu sendiri terlebih dahulu, sebelum mengenali orang lain dan menjalin relasi khusus dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Cara mengenali diri sendiri, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;1. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Definisikan nilai2 hidup seperti apa yang kamu miliki&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai2 ini biasanya cenderung menetap dan mendampingi individu dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Dan jika nilai2 ini dapat dikompromikan/sesuai dengan nilai2 yang dianut oleh pasangan, maka nilai inilah nantinya yang dapat berperan ibarat 'perekat' dalam hubungan jangka panjang. Yang termasuk ke dalam nilai2 ini yakni diantaranya terkait dengan: agama/kepercayaan yang dianut, kesepakatan untuk memiliki anak, kebiasaan individual dalam mengatur keuangan, kebiasaan individual dalam mengambil sebuah keputusan penting (apakah sendiri2 atau diputuskan berdua/terbiasa membutuhkan bantuan orang lain), pandangan pribadi terkait dengan kejujuran dan kesetiaan, bahkan tentang bagaimana pandangan anda tentang konsep sebuah perceraian pun harus dikenali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;2. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kenali dan pahami kebutuhan emosionalmu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan akan intimasi, kebutuhan akan pemuasan seksual, kebutuhan untuk dihargai/dipahami/diterima oleh pasangan kita adalah merupakan jenis2 kebutuhan yang harus kita kenali dan sadari keberadaannya pada diri kita. Tiap individu memiliki caranya tersendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan tsb dan mencapai kebahagiaan atas terpenuhinya kebutuhan tsb.&lt;br /&gt;Saat kita sudah kenal akan kebutuhan apa yang paling kita inginkan, maka saat itu pula kita dapat mencari orang seperti apa yang kita inginkan, dalam rangka pemenuhan kebutuhan tsb. Cth: jika kebutuhan akan rasa aman adalah hal paling penting bagi diri anda, maka better jika mencari pasangan yang dapat memenuhi kebutuhan tsb (kebutuhan rasa aman dapat berupa materi, atau masa depan yang pasti).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;3. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Identifikasi polamu dalam menjalin relasi kasih sayang/cinta&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Lantas, bagaimana caranya menemukan orang yang dapat sesuai dengan kebutuhan emosional kita dan dapat berbagi nilai2 yang sama dengannya? Jawabannya adalah: coba lihat pada jenis relasi paling baik yang sudah pernah kita alami bersama keluarga atau teman baik. Ingat2 pada hubungan dengan orang2 tsb yang telah membuatmu merasa 'tumbuh', menjadi diri sendiri dan merasa 'utuh'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;4. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lakukan uji coba (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;test drive&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;) pada hubungan yang sudah kamu miliki (sebelum menikah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;5. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika uji coba sudah lewat dari 3 bulan, dan kamu merasakan ada progress, maka mulailah berpikir untuk menuju tahap yang lebih serius&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan secara bebas dari:     &lt;a href="http://www.webmd.com/Colette-Bouchez" onclick="return sl(this,'','prog-lnk');"&gt;Colette  Bouchez&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;WebMD Feature&lt;/div&gt;     &lt;div class="reviewedBy_fmt"&gt;    Reviewed by     &lt;a onclick="return sl(this,'','prog-lnk');" href="http://www.webmd.com/Louise-Chang"&gt;Louise  Chang, MD&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;     &lt;div class="clearBoth_fmt"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selese nih, bersambung yaa... sabaar :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-2592761710290383509?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/2592761710290383509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=2592761710290383509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/2592761710290383509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/2592761710290383509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/09/looking-for-love-understanding-what-you.html' title='Kenapa kadang kita &apos;seolah&apos; sulit menemukan cinta?'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-3289850181302016389</id><published>2007-09-14T05:58:00.000-07:00</published><updated>2007-10-20T20:33:11.000-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Ilmiah'/><title type='text'>Paper dalam Kongres Nasional Asosiasi Psikologi Islam (Semarang, 2007)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terapi Humor Dalam Psikologi Islam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rena Latifa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;a href="mailto:asep@jawamanis.com"&gt;rena.latifa@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ABSTRAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Humor didefinisikan secara bervariasi oleh para ahli dan terus berubah sepanjang waktu. Humor didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarnya (maupun pembawanya) merasa tergelitik perasaannnya, merasa lucu, sehingga terdorong untuk tertawa (Danandjaya, 2004). Sementara konsep ‘rasa humor’ atau s&lt;i&gt;ense of humor&lt;/i&gt; adalah sebuah konsep yang multifaset, universal dan memiliki banyak definisi. Salah satu tokoh, Martin misalnya (dalam Miller, 2003) mendeskripsikan &lt;i&gt;sense of humor&lt;/i&gt; sebagai perbedaan kebiasaan individual dalam segala bentuk tingkah laku, pengalaman, perasaan, sikap dan kemampuan yang dihubungkan dengan hiburan (&lt;i&gt;amusement&lt;/i&gt;), kesenangan, tertawa, candaan dan sejenisnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perhatian ahli-ahli ilmu sosial, khususnya psikologi, terhadap fenomena humor ternyata juga cukup besar. Ini terlihat dari adanya berbagai teori dan penelitian tentang humor dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. Teori dan penelitian humor ini terutama berkembang sebagai bagian dari teori-teori &lt;i&gt;positive psychology&lt;/i&gt; yang saat ini sedang marak dibicarakan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;di kalangan ilmuwan psikologi, sebab &lt;i&gt;positive psychology&lt;/i&gt; dipandang sebagai hal yang membangkitkan keberadaan manusia (Lopez &amp;amp; Snyder, 2003).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Betapa tidak, humor sebagai bagian dari kualitas insani sungguh memiliki dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental manusia. Banyak temuan penelitian yang membuktikan manfaat humor. Humor dapat mengurangi tingkat kecemasan individu (Kelly, 2002), humor dapat meningkatkan kesehatan mental (Miller, 2003), humor dapat berperan sebagai ‘&lt;i&gt;anti-dote&lt;/i&gt;’ dari stres (Wooten, 1996), serta humor berkaitan erat dengan kreativitas (De Bono dalam Susanto, 1998) dan kepribadian matang (Allport, dalam Bastaman, 1996).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di sisi lain, penggunaan humor secara berlebihan dan apabila kurang berkenan dalam hal penyampaian, ternyata dapat menimbulkan korban atau mengorbankan seseorang/sekelompok orang sehingga timbul sakit hati dan penderitaan. Padahal dalam ajaran Islam dikatakan:&lt;i&gt;“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” &lt;/i&gt;(QS, 49:11).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Makalah ini ingin mendudukkan Terapi Humor pada proporsi yang tepat. Terapi Humor perlu dipandang sebagai salah satu alternatif terapi psikologis yang manfaatnya dapat lebih dirasakan dibanding mudharatnya. Makalah ini berusaha membedakan keunggulan dan keterbatasan dari Terapi Humor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.7pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Psikolog Muslim yang bergelut dengan terapi tentunya memerlukan pengetahuan yang komprehensif mengenai bagaimana Islam memandang Humor. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Yusuf Qardhawi: “Sesungguhnya tertawa itu termasuk tabiat manusia. Binatang tidak dapat tertawa, karena tertawa itu datang setelah memahami dan mengetahui ucapan yang didengar atau sikap dari gerakan yang dilihat, sehingga ia tertawa karenanya”. Sesuai pendapat diatas, maka hukum tertawa adalah boleh. Begitu juga tertawa memiliki manfaat baik bagi fisik maupun psikologis. Selain itu, tertawa juga bermanfaat secara ibadah, yaitu: (1) merupakan sedekah (2) memberi kesan berseri dan optimis (3) penawar rohani, obat bagi jiwa dan ketenangan bagi sanubari yang lelah setelah berusaha dan bekerja (4) tanda kemurahan hati, isyarat bagi suatu temperamen yang mantap, tanda bagi murninya suatu tujuan, dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(5) menunjukan kebahagiaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Temuan dari beberapa literatur dan bukti-bukti di atas dapat mendukung sebuah presuposisi yang mengatakan bahwa humor yang dilakukan dengan benar dan tidak berlebihan serta dilakukan dengan tujuan ibadah akan memberikan efek penyembuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kata Kunci:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Humor, Kualitas Insani, Sehat Mental, Stress, Kreativitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin Paper Lengkap dari postingan ini, just feel free to ask :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-3289850181302016389?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/3289850181302016389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=3289850181302016389' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/3289850181302016389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/3289850181302016389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/09/paper-dalam-kongres-nasional-asosiasi.html' title='Paper dalam Kongres Nasional Asosiasi Psikologi Islam (Semarang, 2007)'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-861174109855114256.post-8714722807144886567</id><published>2007-09-12T15:39:00.001-07:00</published><updated>2007-09-14T02:14:07.972-07:00</updated><title type='text'>pSikoloGi iSLam, oN its deVelopMent</title><content type='html'>Adalah kami mahasiswa2 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, yang mendapatkan mata kuliah Psikologi Mainstream dan mata kuliah terkait Dinamika Kejiwaan dalam khasanah keilmuan Islam, yang merasa penting untuk men-declair-kan Psikologi Islam sebagai sebuah alternatif keilmuan dan lingkup praktis kepsikologian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilatari masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim dan sering melibatkan pendekatan agama dalam segala aspek kehidupannya, maka Psikologi Islam dapat menjadi 'angin segar' layaknya Ekonomi Islam yang membawa perbaikan bagi ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini masih perjuangan. Masih merangkak atau tertatih2. Hopefully soon will find da strategy to be more mature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--reNa--&lt;br /&gt;Moslem Psychologist&lt;br /&gt;SIP. &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana; color: black;" lang="SV"&gt;01/IP:03-07/1572&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/861174109855114256-8714722807144886567?l=tentangpsychology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/feeds/8714722807144886567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=861174109855114256&amp;postID=8714722807144886567' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/8714722807144886567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/861174109855114256/posts/default/8714722807144886567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tentangpsychology.blogspot.com/2007/09/test.html' title='pSikoloGi iSLam, oN its deVelopMent'/><author><name>--ReNa LatiFa--</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07535790766595491218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://i172.photobucket.com/albums/w15/pandigila/Picture00851.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
